Perizinan Pendakian
Perizinan Pendakian sebagai bagian dari pengelolaan pengunjung yang bertujuan mewujudkan tertib administrasi sebagai salah satu bentuk pelayanan kepada pengunjung. Fungsi perizinan pendakian berkaitan dengan aspek keabsahan sebagai pengunjung Taman Nasional Gunung Ciremai.
Persyaratan Perizinan
Untuk dapat memperoleh Surat Izin Pendakian (SIP) Taman Nasional Gunung Ciremai, maka setiap calon pengunjung diwajibkan melengkapi persyaratan yang ditetapkan oleh Balai TNGC sebagai berikut :
Identitas diri yang masih berlaku, berupa :
foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku.
foto copy Kartu Pelajar yang masih berlaku.
foto copy Kartu Mahasiswa yang masih berlaku.
foto copy Surat Izin Mengemudi (SIM) yang masih berlaku.
foto copy Pasport (khusus bagi WNA) yang masih berlaku.
Bagi calon pendaki berumur < 17 tahun, disamping identitas diri tersebut harus menyertakan Surat Izin Orang Tua/Wali dilengkapi copy identitas diri orang tua/wali.
Setiap group/kelompok pendaki beranggotakan minimal 3 (tiga) orang.
Dengan pemberlakuan system pembatasan jumlah pendaki (quota), selain persyaratan tersebut di atas maka bagi calon pendaki diharuskan menetapkan tanggal pendakian, pintu masuk, dan pintu keluar yang dipilihnya yang nantinya tidak dapat dirubah setelah di terbitkan SIP.
Melengkapi diri dengan peralatan, pakaian dan perlengkapan-perlengkapan lain yang memadai
Pelayanan Surat Izin Pendakian (SIP)
Perizinan pendakian terpusat di Kantor Balai TNGC di Kuningan, dan pelayanan SIP dilakukan setiap hari, mulai pukul 08.00 – 15.00 WIB (Bagan proses SIP terlampir). SIP pendakian dikeluarkan oleh Balai TNGC dan ditandatangani oleh Kepala Balai, dan batas waktu izin berada di dalam kawasan maksimum 3 hari 2 malam (60 jam). SIP pendakian tidak dapat dikeluarkan pada saat kawasan TNGC dinyatakan ditutup oleh pejabat yang berwenang.
Di Balai TNGC, setiap calon pendaki/ketua rombongan yang akan mengurus Surat izin Pendakian (SIP) dapat memperoleh informasi tentang TNGC melalui display, film/slide program, VCD, dan lain-lain sehingga yang bersangkutan dapat menyampaikan pesan-pesan kepada anggotanya.
Proses Perizinan
Perizinan pendakian di TNGC ditetapkan dengan system booking dengan parameter ganda yaitu berdasarkan:
Pembatasan Jumlah Pendaki (quota)
Jumlah pendaki ditetapkan sebanyak 1500 orang setiap harinya (Berdasarkan hasil kesepakatan bersama antara Balai Taman Nasional Gunung Ciremai dengan Mitra, LSM dan Dinas terkait tanggal 25 Juli 2007) dengan perincian menurut pintu masuk resmi sebagai berikut :
Pintu Masuk Pos Linggarjati : 600 Orang per hari
Pintu Masuk Pos Palutungan : 500 Orang per hari
Pintu Masuk Pos Apuy : 400 Orang per hari
Waktu booking
Waktu booking ditetapkan paling lambat 2 hari sebelum hari/tanggal pendakian (selanjutnya disebut sebagai H-2) yang merupakan batas akhir pelayanan Surat Izin Pendakian, hingga satu bulan sebelum hari/tanggal pendakian sebagai batas waktu terlama pelayanan Surat izin Pendakian.
Contoh :Untuk pendakian tgl 10 Agustus 2009, maka :
Paling lambat / batas pelayanan Surat Izin Pendakian Gunung Ciremai adalah tanggal 8 Agustus 2009;
Paling cepat / batas waktu terlama pelayanan Surat Izin Pendakian adalah tanggal 8 Juli 2009.
Proses Perizinan.
Langsung
Calon pendaki datang langsung ke Pos Pendakian yang telah ditunjuk resmi oleh Balai TNGC dengan menyerahkan persyaratan secara lengkap, membayar karcis masuk dan asuransi, menetapkan tanggal pendakian pintu masuk dan pintu keluar. Surat Izin Pendakian dapat diproses dan dinyatakan keabsahannya setelah ditandatangani oleh ketua/perwakilan calon pendaki dan petugas perizinan. Selanjutnya Surat Izin Pendakian warna putih dan merah diberikan kepada calon pendaki untuk dibawa pada saat kegiatan pendakian, sedangkan lembar Surat Izin Pendakian warna kuning disimpan untuk diarsip perizinan.
Tidak langsung
Sebelum melakukan booking, calon pendaki dapat memperoleh informasi lewat telepon berkaitan dengan rencana pendakiannya setiap hari, mulai pukul 08.00-15.00 WIB. Selanjutnya calon pendaki mengirimkan foto copy identitas diri peserta melalui faximile dengan disertai keterangan yang pasti meliputi; daftar anggota (nama, umur, jenis kelamin dan pekerjaan), tanggal pendakian, pintu masuk, pintu keluar, dan bukti transfer Bank yang telah ditunjuk oleh Balai TNGC sebagai pembayaran karcis masuk dan asuransi. Selanjutnya Surat izin Pendakian dapat diambil pada hari/tanggal pendakian atau hari/tanggal lainnya dengan ketentuan sebagai berikut :
Surat Izin Pendakian (SIP) diambil di Pos Pendakian setiap hari, mulai pukul 08.00-15.00 WIB; apabila hingga batas waktu hari/tanggal berlaku Surat izin Pendakian tidak diambil maka Surat Izin Pendakian dinyatakan gugur dan uang karcis tidak dapat diminta kembali;
Menyerahkan foto copy tanda pengenal/bukti diri sesuai dengan daftar nama yang dikirim; nama-nama yang telah ada dalam daftar nama sampai H-2 tidak dapat diganti ataupun dirubah sehingga apabila terdapat ketidaksesuaian maka dianggap gugur dan uang karcis tidak dapat diminta kembali;
Menyerahkan bukti asli transfer Bank yang telah ditunjuk oleh Balai TNGC sebagai bukti pembayaran karcis masuk dan asuransi.
Karcis Masuk dan Asuransi Kecelakaan
Karcis Masuk
Nilai Nominal karcis masuk diatur dan ditetapkan berdasarkan Ketentuan dan Peraturan Perundangan yang berlaku.
Karcis Asuransi
Setiap pengunjung diwajibkan membeli karcis asuransi kecelakaan.
Pada setiap lembar karcis baik karcis masuk atau karcis asuransi terdapat nomor seri masing-masing, dan karcis ini akan dipegang oleh pengunjung (tidak dikembalikan kepada petugas) serta merupakan bukti pembayaran yang sah.
Pelaksanaan Pendakian
Setelah calon pendaki mendapatkan Surat izin Pendakian (SIP), selanjutnya calon pendaki dapat melakukan kegiatan pendakian pada hari/tanggal dan pintu masuk yang ditetapkan/dipilihnya. Mekanisme pelaksanaan pendakian seperti uraian berikut :
Melapor di Pintu Masuk (bagan terlampir)
Waktu melapor mulai pukul 08.00-15.00 WIB setiap harinya;
Menyerahkan surat izin pendakian (lembar putih dan merah) berikut karcis masuk dan asuransi sebagai bukti keabsahan administrasi;
Petugas meneliti dan mengecek data yang tertera pada surat izin meliputi : nomor, nama ketua regu, jumlah anggota, pintu masuk, tanggal pendakian, karcis masuk dan asuransi serta nama-nama pendaki;
Petugas memberi informasi tentang peraturan/tata tertib pendakian;
check packing dilakukan terhadap barang bawaan pengunjung termasuk perbekalan makanan untuk pendakian;
Memberikan validasi (paraf dan tanggal);
Surat izin Pendakian lembar putih berikut karcis masuk dan asuransi diberikan kembali kepada pendaki sebagai bukti yang sah selama aktifitas pendakian, sedangkan lembar merah disimpan di pintu masuk sebagai arsip setelah dicatat datanya ke dalam buku register pendakian (masuk)
Pendaki dianggap sebagai pengunjung pendakian secara resmi sejak masuk kawasan TNGC.
Pada saat pendaki melapor di Pintu Keluar
Waktu melapor mulai pukul 06.00-21.00 WIB setiap harinya;
Mengecek surat izin pendakian (lembar putih dan merah) berikut karcis masuk dan asuransi sebagai bukti keabsahan administrasi;
Meneliti dan mengecek data yang tertera pada surat izin meliputi : nomor, nama ketua regu, jumlah anggota, pintu masuk, tanggal pendakian, karcis masuk dan asuransi serta nama-nama pendaki;
Ketua regu wajib mengecek kelengkapan jumlah anggota;
Check packing dilakukan terhadap barang bawaan pengunjung setelah melakukan pendakian;
Memberikan validasi (paraf dan tanggal);
Surat Izin Pendakian lembar putih diberikan kepada petugas pintu keluar sebagai arsip setelah dicatat datanya ke dalam buku register pendakian (keluar);
Kegiatan pendakian selesai dan para pendaki selesai pula statusnya sebagai pengunjung pendakian TNGC.
Sumber Informasi : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC)
Jalur Pendakian Gunung Cermai
Gunung Ceremai (3.078 mdpl) termasuk gunungapi Kuarter aktif, tipe A (yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk strato. Gunung ini merupakan gunungapi soliter, yang dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap - Kuningan dari kelompok gunungapi Jawa Barat bagian timur (yakni deretan Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha hingga Gunung Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung. Gunung Ceremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ceremai (TNGC). Secara geografis terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT.
Jalur Pendakian
Gunung Ciremai dapat didaki dari arah timur melalui Linggarjati (580 m.dpl), dari arah selatan melalui Palutungan (1.227 m.dpl) dan dari arah barat melalui Maja (lewat Apui dan lewat Argalingga). Jalur Linggarjati dan jalur Palutungan adalah jalur yang paling banyak dilalui, dan merupakan jalur yang dianjurkan oleh pihak PERHUTANI pengelola kawasan hutan di sekitar Gunung Ciremai. Desa Linggarjati merupakan
gerbang utama pendakian ke Gunung Ciremai, untuk mencapainya : dari terminal Cirebon kita naik bus jurusan Kuningan dan turun di Terminal Cilimus atau di pertigaan menuju pusat Desa Linggarjati, dan meneruskan perjalanan ke Desa Linggarjati dengan minibus.
Desa Linggarjati merupakan desa yang bersejarah, dimana kita bisa mengunjungi Gedung Linggarjati, yang dijadikan museum untuk mengenang perjanjian Linggarjati yang dilaksanakan tahun 1946. Desa SangkanHurip, ± 4 km ke arah timur Linggarjati, terdapat permandian air panas yang mengandung yodium, berbeda dengan tempat lain yang biasanya mengandung belerang.
Jalur Linggarjati
Jalur pendakian dari Linggarjati ini sangat jelas, karenanya menjadi pilihan utama para pendaki. Jalur Linggarjati ini lebih curam dan sulit, di jalur ini air hanya terdapat di Cibunar. Dari Desa Linggarjati berjalan lurus kurang lebih 1/2 jam, kita akan sampai di Cibunar (750 m.dpl). Disini kita menjumpai jalan bercabang, ke arah kiri menuju sumber air dan lurus ke arah puncak. Kalau tidak bermalam di Desa Linggarjati, kita bisa berkemah di Cibunar ini.
Dari Cibunar, kita mulai perjalanan melewati perladangan dan hutan Pinus, dan kita akan melewati Leuweung Datar (1.285 m.dpl), Condang Amis (1.350 m.dpl), dan Blok Kuburan Kuda (1.580 m.dpl). Dari Cibunar sampai ke Blok Kuburan Kuda dibutuhkan waktu kira-kira 3 jam.
Jalur akan semakin curam dan kita akan melewati Pengalap (1.790 m.dpl) dan Tanjakan Binbin (1.920 m.dpl) dimana kita bisa temui pohon-pohon palem merah. Selanjutnya kita lewati Tanjakan Seruni (2.080 m.dpl), dan Bapa Tere (2.200 m.dpl), kemudian kita sampai di Batu Lingga (2.400m.dpl), dimana terdapat sebuah batu cukup besar ditengah jalur. Perjalanan dari Kuburan Kuda sampai ke Batu Lingga ini memakan waktu sekitar 3 - 4 jam.
Dari Batu Lingga kita akan melewati Sangga Buana Bawah (2.545 m.dpl) dan Sangga Buana Atas (2.665 m.dpl), mulai di jalur ini kita bisa memandang kearah pantai Cirebon. Selanjutnya kita akan sampai di Pengasinan (2.860 m dpl), yang membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dari Batu Lingga. Di sekitar Pengasinan ini akan dijumpai bunga Edelweis. Dari Pengasinan menuju puncak Sunan Telaga atau Sunan Cirebon (3.078 m.dpl) masih dibutuhkan waktu sekitar 0,5 jam lagi, dengan melewati jalur yang berbatu-batu.
Bila cuaca cerah, dari puncak kita juga dapat menikmati panorama yang menarik ke arah kota Cirebon, Majalengka, Bandung, Laut Jawa, gunung Selamet dan gunung-gunung di Jawa Barat. Suhu di puncak bisa mencapai 8 -13 C. Dari puncak ke arah kanan kita bisa menuju ke kawah belerang yang ditempuh dalam 1,5 jam perjalanan. Untuk mengitari puncak dan kawah-kawahnya, diperlukan waktu 2,5 jam.
Perjalanan mendaki puncak Gunung Ciremai rata-rata membutuhkan waktu 8-11 jam dan 5-6 jam untuk turun. Pendakian pada musim kemarau cukup menyenangkan karena cuaca lebih bersahabat, dan kondisi medan tidak terlalu licin, serta pemandangan lebih cerah.
Jalur Palutungan
Jalur Palutungan tidak terlalu curam seperti jalur Linggarjati, tetapi kita harus menambah waktu tempuh 2-3 jam. Dari Terminal Kuningan kita bisa langsung menuju Desa Palutungan yang jaraknya 9 km dengan Angkutan Pedesaan. Di Desa Palutungan terdapat areal perkemahan yang bernama Bumi Perkemahan Erpah, persedian air untuk pendakian sebaiknya disiapkan di desa ini.
Dari Palutungan perjanab kita teruskan melalui Cigowong Girang (1.450 m.dpl), selama 3 jam perjalanan, dimana terdapat sebuah sungai kecil yang lebarnya ± 1-1,5 m, disini kita bisa menambah persediaan air dan mendirikan tenda, selanjutnya kita akan memasuki hutan dan melalui Blok Kuta (1.690 m.dpl) dan Blok Pangguyungan Badak (1.790 m.dpl).
Perjalanan kita teruskan dengan melewati Blok Arban (2.030 m.dpl), kemudian Tanjakan Assoy (2.108 m.dpl). Dari Cigowong Girang diperlukan waktu 4-5 jam menuju tempat ini. Selanjutnya kita akan melewati Blok Pesanggrahan (2.450 m.dpl) dan Blok Sanghyang Ropoh (2.590 m.dpl), kemudian kita akan sampai pada pertigaan (2.700 m.dpl) yang menuju ke Apui dan ke Kawah Gua Walet. Kira-kira 2 jam waktu tempuh dari Tanjakan Assoy ke pertigaan ini. Dari pertigaan kita menuju Kawah Gua Walet (2.925 m.dpl) dan ke puncak Sunan Cirebon, yang diperlukan waktu 1,5 jam perjalanan.
Jalur Maja
Untuk mencapai kampung Apui, Cipanas. Dari arah kota Cirebon naik bus menuju ke Majalengka, lalu dilanjutkan dengan naik minibus menuju ke Maja (556 m dpl). Setelah sampai di Maja kita naik lagi Angkutan Pedesaan menuju ke Desa Cipanas. Di Desa Cipanas kita akan menemui lahan bekas perkebunan Teh Argalingga yang sangat luas tapi sekarang telah berubah menjadi lahan sayur-sayuran. Di sini saat matahari tenggelam di ufuk barat.
Dari desa Cipanas, perjalanan kita teruskan menuju ke kampung Apui (1.100 m dpl) dengan angkutan pedesaan. Setiba di kampung Apui kita mempersipakan kebutuhan air karena sepanjang jalur pendakian tidak terdapat mata air. Kampung Apui, Mayoritas penduduknya Sunda dan bermata pencaharian sebagai petani sayur-sayuran. Jalan masuk ke kampung ini banyak terdapat tanjakan - tanjakan dengan kemiringan hampir 70 derajat.
Awal pendakian dimulai melewati perladangan dan hutang produksi selam 3-4 jam kita akan sampai di Berod. Disini kita akan menemui pertigaan, kita ambil yang ke arah puncak). Setiba di Berod perjalanan kita teruskan menuju ke Simpang Lima (Perempatan Alur), perjalanan memakan waktu sekitar 0,5 jam dari Berod, lalu di teruskan menuju Tegal Mersawah. Di Tegal Mersawah perjalanan langsung kita teruskan menuju ke Pangguyangan Badak. Disini kita bisa beristirahat. Perjalanan kita teruskan 2 jam lagi kita akan sampai di Tegal Jumuju (2.520 m dpl).
Dari Tegal Jumuju perjalanan kita teruskan menuju ke Sanghyang Rangkah, Selama 2 jam perjalanan. Di Sanghyang Rangkah terdapat lokasi pemujaan yang sering di pergunakan oleh penduduk di sekitar lereng untuk upacara memohon keselamatan. Dari sini perjalanan kita teruskan menuju ke Gua Walet (2.925 m dpl), selama 4 jam perjalanan.
Gua walet merupakan bekas letusan yang berbentuk terowongan. Disini kita juga bisa mendirikan tenda untuk bermalam. Esok harinya kita bisa menuju ke Tepi Kawah (3.056 m dpl) dan Langsung ke puncak, selam 3 jam perjalanan.



